Selasa, 03 April 2012

Eksotisnya Bandara Baru Ngurah Rai


        Bandara Internasional Ngurah Rai, Kabupaten Badung, Bali, tidak sekadar merupakan simpul transportasi. Pula tak berhenti sebagai salah satu sentra ekonomi sekaligus penggerak perekonomian daerah dan negara.
Di luar urusan bisnis itu, bandara ini juga menjadi landmark Pulau Dewata dan Indonesia. Dalam konteks sosiologis, infrastruktur ini lebih luas lagi, menjadi bagian dari budaya dan adat. Begitu turun dari tangga pesawat, turis sudah langsung bisa menikmati dan mengeksplorasi sebagian kekayaan budaya Bali.
Karenanya, aspek budaya, adat, bahkan agama menjadi salah satu dimensi dalam mengembangkan bandara tersebut. Pengelola bandara, PT Angkasa Pura (PAP) I, bersama pemda setempat dan instansi terkait membentuk Komite Desain sebelum start mengembangkan bandara berbiaya Rp2,5 triliun itu.
“Komite itu diperkuat oleh unsur dari akademisi yakni Universitas Udayana, unsur praktisi yakni Ikatan Arsitektur Indonesia Wilayah Bali, tim ahli Bangunan dan gedung tradisional Bali, serta pejabat-pejabat Desa Adat sekitar Bandara Ngurah Rai,” ungkap Direktur Utama PAP I Tommy Soetomo didampingi sekretaris perusahaan Miduk Situmorang dan kepala humas Merpin Butar-butar.
Melalui komite tersebut, dia mengutarakan kearifan lokal bisa memperkaya perencanaan pembangunan bandara. Karenanya, arsitektur bandara dan fasilitas pendukungnya tak hanya paralel dengan dinamika teknologi, tetapi juga mengedepankan nuansa artistik dan estetika bermuatan adat serta kultur.
Eksterior dan interior seluruh bangunan kental dengan nuansa Bali, dipadukan dengan dimensi modernitas bergaya kosmo dan futuristik. Berbagai ritual adat menyertai dalam pengerjaannya.
Contohnya, bangunan utama terminal baru memiliki atap seperti gelombang lautan. Begitu juga gedung parkir bertingkat dengan model limas, yang dibentuk seperti  hamparan sawah berjenjang. Eksterior dan interiornya kental dengan nuansa Bali. 
PERALATAN MODERN
Sedangkan dimensi modern kuat pada berbagai peralatan utama dan pelengkap bandara. Contohnya, gate handling system. Disiapkan peralatan super modern seharga Rp150 miliar. Bagasi penumpang akan digerakkan dan diawasi secara elektronis dan mekanis dari sejak cek in hingga mendekati pesawat.
“Minim kontak fisik dari petugas tapi jauh lebih akurat, cepat, efektif dan efisien. Apalagi dilengkapi dengan sensor X-Ray berlapis-lapis. Peralatan ini kali pertama di bandara di Indonesia. Kami serius betul menggarap pengembangan bandara yang dapat menampung hingga 25 juta penumpang per tahun ini,” jelas Tommy.
Sangat seriusnya PT Angkasa Pura I menggeber pengembangan bandara juga karena mendukung program pemerintah  tentang percepatan pembangunan ekonomi khususnya untuk koridor ekonomi wilayah V. Maka dalam RJPP PAP I tahun 2009 – 2013, salah satu titik fokusnya adalah menjadikan Bandarsa Ngurah Rai – Bali sebagai The Best Tourism Airport.  
Dia juga menjelaskan pembangunan bandara baru itu juga berbasis kepada aspek lingkungan dalam konteks eco-airport dan peningkatan harkat masyarakat sekitar bandara.
“Ada satu kompleks sekolah negeri, TK hingga SMP, yang terkena perluasan bandara, kami bangun masih dekat bandara. Bangunannya lebih modern, begitu juga fasiltasnya kami upayakan agar dilengkapi dengan sejumlah laboratorium. Ini agar proses belajar dan mengajar lebih mantap dan kuat,” tegasnya.
OVER CAPACITY
Pernyataan senada dikemukakan General Manager Bandara Ngurah Rai, Purwanto. Dia menuturkan dukungan dari pemda, pemuka adat dan masyarakat Bali begitu luar biasa dalam pengembangan bandara. “Tak hanya mendukung, tetapi juga ikut bekerja membantu kami. Ini kami syukuri,” ujarnya.
Dengan dukungan tersebut, dia mengutarakan pekerjaan proyek bisa lebih cepat. “Menakjubkan memang. Realisasi proyek melebihi dari target. Karena itu, kami optimis penyelesaian bandara baru ini bisa lebih cepat pada tahun 2013,” tuturnya.
Pengembangan bandara mendesak direalisasikan karena saat ini Bandara Ngurah Rai sudah overload dengan  6,6 juta penumpang domestik per tahun. Angka itu melebihi daya tampung penumpang domestik yang hanya 1,5 juta penumpang/tahun.
Terdapat 175 penerbangan domestik dari Bali maupun menuju ke Bali. Dia menjelaskan penerbangan itu mengangkut sekitar 18.000 penumpang/hari. “Kepadatan itu masih ditambah lagi dengan wisatawan asing yang juga memadati terminal internasional,” ungkapnya.
Namun, bandara Ngurah Rai masih dapat mengendalikan dengan daya tampung internasional sekitar 6 juta/tahun atau sekitar 17.000 penumpang/hari dengan 108 penerbangan internasional/hari.
PROGRES
Dengan luas lahan  hanya 285 hektar serta tingginya laju pertumbuhan jumlah penumpang dan pesawat, pimpinan proyek Bandara Ngurai Rai, Sri Unon Setyasih, menjelaskan maka pembangunan kali ini merupakan pembangunan pengembangan terakhir, karena akan diperuntukkan sampai dengan titik ultimate kapasitas bandara.
Selain pembangunan gedung terminal internasional, infrastruktur yang dibangun lainnya adalah jalan akses dan toll gate baru, area parkir domestik, gedung parkir internasional, dan gedung Promenade. Selain itu, gedung kantor terpadu, gedung sekolah (eks-relokasi), gedung kargo internasional, perluasan apron, serta gedung katering.
Didampingi Yunus Suprayogi, dia menjelaskan pembangunan tersebut  harus mengacu kepada peraturan keselamatan dan keamanan penumpang seperti yang tertuang dalam Dokumen ICAO Annex 17. 
 “Progres proyek sampai saat ini sudah mencapai 11%”. Saat ini semua konsentrasi tertuju pada pelayanan konferensi tingkat tinggi Asia  Pacific Economic Cooperation (APEC), sehingga target operasional minimal untuk jalur-jalur utama pelayanan penumpang harus sudah bisa dioperasikan pada September 2013, ujarnya.(agus wahyudin).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar